Sebelumnya tak ada sedikitpun perasaan tertarik untuk memulainya denganmu bahkan aku tak pernah berfikir sekilas pun tentangmu. Tak ada kamu dihati aku. Kamu samsekali asing dan aku memandangmu sama seperti caraku memandang yang lain. There's nothing in my heart but a blank space, just an empty sheet.
Dan suatu ketika kamu datang meyakinkanku dengan lisan dan tulisan yang menyirat dan menyuratkan bahwa kesungguhanmu benar-benar suatu hal yang akan sangat disayangkan jika kuabaikan. Namun aku masih tak ada keinginan untuk menanggapinya.
Walaupun seperti itu keadaanku kamu tetap hadir terus menerus membawa berjuta kata penuh harap, membuatku tergerak untuk membalas walaupun waktu itu aku hanya main-main, sekedar untuk mengisi kekosongan.
Hari demi hari berlalu sampai aku menemukan diriku terjerat dalam kepura-puraan yang ku ciptakan. Ada perasaan lain yang tak kurasakan sebelumnya terhadapmu, ada hangat dijiwa ini ketika mendengar sapamu. Aku sempat bertanya pada hati kecilku, apakah aku mulai bisa menerima kembali makhluk yang bernama lelaki? "Tidak!" Satu sisi keegoanku menepisnya. Kalaupun terjadi itu pasti bukan kamu yang kubiarkan masuk dan mengisi rumpang hatiku mengingat perkenalan kita yang terasa sangat bodoh. Tetapi keangkuhanku perlahan roboh, aku berjalan mengikuti alur yang telah diarahkan hati ini.
God, I truly love him! And You are the first who knows what I feel.
Finally I fall into his arms. Aku tak mampu menyangkal bahwa aku menyayanginya tanpa alasan. Aku tahu dia menyebalkan, sering tak menepati janji dan omongannya nonsense, ya itu yang ku temukan darinya setelah dia mengetahui aku menyimpan perasaan terhadapnya. Apakah harapan yang dulu dia bawa hanyalah sekedar bualan belaka. Ya misi dari permainan busuknya. Permainan yang menguji seberapa hebatnya dia membodohi aku.
Dan apakah aku hanya korban dari perasaan sesaatnya, ketika kesepian digenggamannya.
Aah entahlah!
Aku merasa aku bukan satu-satunya. I feel I just your willing victim. Banyak yang tidak aku ketahui tentangmu dan kau pun selalu bungkam.
Tak jarang kau mengecewanku lewat omongan maupun tindakanmu tapi anehnya semua itu tidak membuatku membencimu. Beberapa kali aku ingin pergi dan mengakhiri tapi aku tak mampu. Sampai disuatu titik yang tak bisa ku tahan lagi. Aku memilih menyudahi kisah singkat ini sebelum aku benar-benar menemukan apa yang selama ini hatiku pertanyakan.
Maaf jika aku salah menilaimu, kamu sendiri yang menyebabkan ku seperti ini. Kau tak pernah benar-benar menginginkanku setulus aku mengnginkanmu buktinya kau bahkan tak berusaha menahanku saat aku melangkah pergi. Bukankah ini semua sudah cukup membuktikan kalau aku hanyalah wanita malang yang lengah yang terjebak permainanmu.





