Lewat tulisan ini aku curahkan semua yang ingin kukatakan karena hanya cara ini yang aku bisa sebab sekarang tak lagi seperti dulu, nenek sudah tak bisa kutatap dan tak bisa mendengar apa yang kuucapkan lagi. Nek, mungkin ini berita yang sangat mengejutkan bagimu dan kau pasti berharap tak pernah mendengarnya namun aku tak bisa menyimpannya sendiri karena dari dulu tugasku adalah menjadi informan buat nenek. Aku tak tau harus darimana memulainya untuk mengatakan ini pada nenek agar tak melukaimu. Malam ini aku dirundung pilu nek, dia cucu bungsumu, adik bungsuku yang dulu kau ajarkan sholat kau paksa untuk pergi mengaji dia terkena musibah nek. Saat ini dia berada dalam suatu kasus yang mungkin bisa mengantarkannya ke jeruji besi karena kesalahan dia yang aku yakin dia pasti tak sengaja melakukannya. Katanya dia sudah 2 minggu di penyidik menunggu vonis dan dana tebusan. Maafkan aku telah lalai untuk mengawasi dan mengingatkannya, aku tak lagi bisa menjaganya seperti saat kami masih anak-anak. Aku tak setangguh dulu ketika membelanya dari semua anak-anak jahat disekolah yang ingin mengganggunya, aku dulu selalu berjuang habis-habisan untuknya tak peduli perempuan atau laki-laki dan seberapa kuat anak-anak nakal itu. Perih sekali hatiku membayangkan apa yang mungkin orang-orang berseragam dinas itu lakukan terhadapnya, ingin sekali menemuinya meringankan deritanya dan melindungi tubuh ringkihnya tapi aku tak mampu aku hanya bisa mendoakannya supaya dia diberi kekuatan dan ketabahan atas ujian ini. O iya nek, suatu hari dia pernah datang menemuiku bicara panjang lebar dan mengeluhkan hidupnya, dia bilang beban hidupnya semakin berat aku bisa melihat roman kepedihan di wajahnya walaupun dia berusaha menutupi. Dia juga bilang satu hal nek bahwa dia merindukan nenek, dia menyesal dulu bandel dan sering mengabaikan nasihat nenek. Nek, nenek jangan sedih, jangan nangis semua pasti baik-baik aja dede pasti bebas aku yakin nek. Besok bapakku dan bapaknya mau menjenguknya.
-Teteh, cucu sulungmu (Informan nenek)





