Pernikahan seolah menjadi klimaks dalam kehidupan setiap orang khususnya perempuan meskipun pada kenyataan sering berakhir menjadi antiklimaks. Seorang perempuan yang masih lajang diusia 20 keatas sering menjadi topik hangat perbincangan dengan pertanyaan serupa "kapan menikah?","kenapa belum menikah?". Padahal pernikahan adalah suatu peristiwa sakral dimana 2 orang saling mengikat janji, bukan cuma janji kepada pasangannya tetapi juga janji kepada Tuhan untuk saling menjaga sampai maut memisahkan. Oleh karena itu butuh pemikiran yang benar-benar matang serta pasangan yang benar-benar siap untuk berjalan bersama menuju mahligai itu.
Disisi lain kadang saya merasa iri dengan laki-laki yang bisa menjalani masa-masa lajangnya lebih lama dibanding perempuan. Jujur, ruang yang saya punya terlalu sempit untuk ukuran pemimpi yang obsesif seperti saya. Banyak hal dalam hidup ini yang belum sempat saya raih tetapi jika mengingat usia, saya merasa sudah bukan masanya lagi mengejar mimpi dan cita-cita. Apalagi orangtua sudah mulai minta dibawakan calon mantu, maklum saya anak pertama jadi mereka tak sabar ingin menikahkan dan menjadi wali.
Namun, sampai detik ini saya belum merasa siap untuk menikah meskipun hampir semua teman-teman sudah pada gendong anak. Ingin sekali mengubah pola pikir yang rumit dan berbelit ini, untuk cepat-cepat menikah dan hidup BAHAGIA bersama sang suami. Nah, kata BAHAGIA itu juga yang kadang menjadi salah satu kekhawatiran saya sebab mereka bilang dalam berumah tangga ternyata tidak seindah yang kita pikirkan ketika masih gadis.
Seperti biasa kalau ada anak gadis orang yang menikah mama pasti telpon dan tadi mama nelpon lagi "Teh anaknya pak ×××× nikah hari ini, terus teteh kapan?" Aku senyum aja nanggapinnya. "Teteh belum ada calonnya ma!"






0 komentar:
Posting Komentar
What do you feel? Please write it on. .