RSS

H-I-M are not just 3 letter word

Untukmu, nama yang pernah memenuhi setiap halaman diary ku, nama yang sengaja kutulis berserakan di modul biologiku. Orang yang pernah membuat hatiku jumpalitan, jantungku berdebar lebih kencang.

Pagi itu senin17 Agustus 2009 awal kita bertemu dan menjadi kisah yang tak akan habis ditelan waktu. Aku masih mengingat wajahnya, suaranya, cara dia menatapku dan wangi parfumnya. Lelaki itu terindah dari semua yang pernah aku kenal. Aku bisa merasakan ketenangan dan rasa nyaman saat bersamanya, merasa terlindungi saat duduk dibelakang sebagai boncengannya.

Awalnya aku hanya mengaguminya, kagum atas sosok dan kepribadian itu yang cerdas dan berwawasan luas, rapi dan bukan perokok. Tetapi semakin lama seiring bergantinya hari kurasa aku juga mulai menyukainya, suka semua yang ada pada dirinya, senyumnya, gaya bicaranya, nasehat-nasehat juga topik bicaranya yang kadang sulit kumengerti. 

Berdua dengannya dan menatap wajahnya adalah kombinasi 2 hal paling menyenangkan waktu itu.

"Kak, jika secara tak sengaja kamu membaca tulisan ini ketahuilah dulu kata suka yang Ana maksud itu sebenarnya adalah cinta, iya dulu aku cinta kamu kak. Aku minta jangan menertawakan aku lagi karena sekarang aku sudah sangat dewasa untuk memahami apa itu cinta. Aku hanya menyampaikan kata yang dulu tak sempat Ana uraikan. Ana sangat mengagumi kakak, yaaah walaupun kakak selalu menganggap Ana anak kecil."

Oh iya aku selalu ingat ketika hari itu aku menemuimu, aku cemas setengah mati karena tak tahu jalan tapi kau menenangkanku dan bilang pasti baik-baik saja dan ketika aku menoleh ke luar jendela bis yang kutumpangi, ternyata kau dibelakang mengikutiku dengan sepeda motormu.

Kak, dimanapun kau berada sekarang dan dengan siapapun pendampingmu aku doakan bahagia selalu. Kamu lelaki baik dan pantas mendapat yang terbaik. Terima kasih atas semua kenangan manis itu.

- Anna -

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Aku Dan Serpihan Lukaku

Diakui atau tidak, ini tetap perasaan dan perasaan ini adalah sumber dari semua rasa sakit yang kuderita. Aku berusaha biasa saja tapi tak bisa.
Kilasan-kilasan peristiwa yang telah berlalu itu selalu terekam berulang-ulang dibenakku membuat ku semakin terpuruk dan merasa tak diinginkan.
Sebuah luka memang tak selalu terlihat oleh mata meskipun sebenarnya sakitnya sungguh mematikan. Tak pernah ada yang tahu bagaimana rasanya sebuah kesakitan yang aku rasa dan aku menjamin tak akan ada yang mengerti sebab mereka cuma mendengar sedangkan aku yang mengalami. "Sabar, bersyukur, dan selalu berfikiran positif, jangan terlalu mendramatisir dan terlalu mendalami hal yang cukup sepele." Kalimat itu mungkin sangat ringan terlontar dari mulut siapapun tetapi bukankah teori lebih mudah dibandingkan dengan praktek langsung?
Aku tersenyum getir diantara hujaman-hujaman tajam belati berusaha berdamai dengan perih yang menggelayut tiada henti.
Aku tertawa seperti orang gila berharap air mata mengering namun tak kunjung jua. Ingin cerita tapi pada siapa aku tak percaya mereka, sedikitpun tidak.
Tuhan, aku berharap Engkau tak pernah bosan mendengar rintihan-rintihan doaku. Aku mohon jangan biarkan ku larut dalam isak tangis dan duka lara. Jangan tinggalkan aku, sebab tanpa pertolonganmu aku tak berdaya. Aku yakin Engkau sangat menyayangiku meskipun seisi dunia tak menginginkanku. Genggam aku seperti aku menggenggamMu di jiwaku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kepingan Rindu Yang Membeku

Tak usah kau bakar lagi sisa-sisa kenangan itu karena ia sudah hancur jadi abu. Kelabu. Terbang menjadi debu.
Pergi saja ke tengah lautan biru dan akan kau dapati kepingan-kepingan rindu yang membeku. Tak pernah bisa mencair walau musim berlalu. Ya, rindu itu milikmu.
Seberapa merdukah lantunan-lantunan nada yang sempat kau nyanyikan dahulu kepadaku hingga sayup-sayup indah syairnya masih menghuni ruang ingatanku.
Ingatkah akan janji yang sempat kau patri didinding gelap sang malam. Ketika purnama tak bulat sempurna, kau pernah berjanji bukan? Bahwa kau tak akan pernah bersembunyi dibalik temaram, sebab adakalanya cahaya sepasang kunang-kunang akan padam, tenggelam, hilang ditelan malam.
Aku tak menemukanmu senja ini bahkan ketika gelap belum merayap menumpahkan warna hitam dikaki langit.
Sayang. .
Bathinku coba menerka, kau pasti menepati janji aku tahu kau tak bersembunyi itu sebabnya mengapa aku terus menanti. Aku menanti hingga bola api membakar harapan dibalik muka pucat pasi.
Tidak, kau memang tak bersembunyi tetapi memilih pergi dan membiarkan ku berdiri sendiri.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS