Tak ada kisah cinta ataupun haru biru disini tapi aku ingin berbagi sedikit cerita yang mungkin bisa dijadikan sebuah pengalaman bagi siapapun yang hendak mengunjungi Gn. Tangkuban Parahu sebagai destinasi liburan, khususnya bagi anda yang baru pertama kali kesana dan tidak membawa kendaraan pribadi.
Gn. Tangkuban Parahu merupakan gunung berapi yang aktif dan menjadi kawasan wisata yang banyak diburu turis lokal maupun mancanegara. Disana kita dapat menikmati landscape yang menawan serta arena outbound yang cocok untuk semua kalangan usia. Tempat wisata yang sarat akan dongeng dan sejarah ini terletak sekitar 20 KM sebelah utara kota Bandung. Untuk sampai disana memerlukan akses sekitar 11 KM dari bundaran Lembang ke arah Subang.
Nah... cerita ini berawal ketika beberapa hari yang lalu aku dan satu orang teman (perempuan) bermaksud mengunjungi Tangkuban Parahu untuk sekedar melepas penat dan refresh otak. Kebetulan aku dan temanku tidak bawa kendaraan waktu itu dan memilih naik angkot dari Lembang menuju kesana. Singkat cerita sampailah ke pintu masuk tempat dimana pengunjung harus mengambil karcis. Aku membayar karcis sebesar Rp. 20.000/org dengan dititipkan ke si kondektur angkot. Setelah itu dia (kondektur angkot) menyerahkan 2 lembar karcis masuk+uang kembalian juga 2 lembar brosur yang berisi tentang seluk beluk Tangkuban Parahu. Daaann... dari sanalah dia beraksi. Kami duduk di kursi depan angkot persis di samping si sopir yang tidak banyak bicara, lain dengan kondekturnya dari belakang tempat duduk kami dia menjelaskan area-area yang ada dibrosur layaknya pemandu wisata tanpa kami minta, selain itu dia memberitahu ongkos yang harus kami bayar untuk 1 kali jalan sebesar Rp. 250.000 dan mereka bersedia menunggu disana dengan catatan harus bayar lagi dengan angka yang sama, jadi pulang pergi kami dipatok dengan tarif Rp. 500.000/2org. Busyeeett mahal banget aku pikir, gila aja tuh orang. Kalau tau dari awal, gak bakalan mau wisata ke Tangkuban Parahu intinya pake angkot gini.
Dan ini isi obrolanku dengan si kondektur/calo bersama para anteknya.
A: "kemahalan tuh bang, gak bisa kurang apa?"
B: "Gak bisa kak segitu udah murah banget lho, daripada kakak nanti pulangnya susah gak ada kendaraan"
A: "Emang iya darisana gak ada kendaraan umum bang?"
B: "Gak ada kak, adanya juga travel tapi sampe jam 4:00 sore. Jadi, kakak gak bakalan sepuasnya disana belum lagi ongkosnya mahal bisa Rp. 300.000 kak".
Padahal saat itu sudah menunjukkan jam 2:15 sore sedangkan tempat itu biasa tutup jam 5:00 sore jadi sama saja kalaupun di tunggu angkot juga gak bakalan sepuasnya. Tapi daripada nanti disana kami bingung pulang naik apa atau yang dibilang si kondektur itu benar bahwa ongkosnya lebih mahal dari ini kan lebih berabe, bathinku.
Setelah tawar menawar dan aku kalah akhirnya aku menyerahkan uang Rp. 250.000 untuk satu kali jalan juga terpaksa sepakat pulangnya diantar angkot yang sama, walaupun berat banget harus bayar Rp. 250.000 lagi. Yang bikin janggal adalah dibelakang ada sekitar 3 atau 4 orang lelaki (jumlah akuratnya aku gak ingat) yang bertampang seram dengan baju dan jacket hitam semua, membuatku enggan menengok kebelakang karena agak takut secara kami berdua cewek semua. Aku coba menebak-nebak mungkin mereka sama penumpang sepertiku, tapi herannya gak bayar karcis. Instingku kuat ini ada yang gak beres apalagi pada saat si kondektur/calo minta ongkos, dari 3-4 orang itu cuma menyerahkan uang sebesar Rp. 200.000 yang berarti hanya cukup untuk ongkos 2 orang saja itupun lebih murah dari kami berdua. Dari gelagat mereka aku semakin curiga ditambah lagi dialog antara si kondektur sama lelaki baju hitam itu terlihat sangat canggung. Aku memberanikan dari menoleh sedikit kebelakang sekedar ingin tahu ekspresi muka lelaki itu, kelihatan banget kalo mereka sekongkol.
Tidak lama setelah itu akhirnya sampailah di tujuan, pemandangan pertama yang aku nikmati adalah kawah Ratu karena letaknya yang paling dekat dengan parking area. Dan wow sangat menakjubkan! Ketika melemparkan pandangan kebawah sana, kita bisa merasakan nuansa alam yang megah dengan kepulan asap belerang yang keluar tanpa henti dari kawah tersebut. Ditambah lagi dengan udara dingin yang menggigit kulit cukup membuatku terbuai.
Dan cerita nya belum habis sampai disini. Si kondektur menawarkan diri untuk menjadi tour guide kami atau sekedar jadi photographer amatir buat kami, tapi aku tolak mentah-mentah. Aku suruh dia tunggu di parkiran.
Singkat cerita setelah beberapa gambar yang aku ambil bergantian bersama teman di beberapa tempat diatas bibir tebing yang mengelilingi kawah Ratu, kamipun bergegas turun. Walaupun sebenarnya belum puas, tetapi hari sudah sangat sore dan tidak memungkinkan untuk terus naik ke atas demi mencapai tujuan-tujuan berikutnya dengan jarak beberapa KM lagi dan membutuhkan waktu tempuh berjam-jam lamanya.
Akhirnya aku dan temanku bergegas turun dan kembali ke parkiran tapi sebelumnya kami berhenti dulu disalah satu pedagang yang menjajakan makanan disana untuk sekedar duduk sebentar dan minum teh panas. Masih dengan bathin yang menerawang karena belum terima harus bayar ongkos angkot sebesar itu, aku mencoba membuka topik perbincangan dengan si ibu pedagang dan menceritakan semua yang terjadi antara kami, sopir angkot, kondektur/calo dan para anteknya. Si ibu pedagang yang sudah lanjut usia itu geleng-geleng kepala sambil berdecak penuh iba. Dia bilang "ongkos segitu mahal banget neng". Dia menyarankan aku untuk melapor ke petugas yang ada disana, kemudian si ibu memanggil salah satu petugas dan akupun menjelaskan apa yang terjadi. Si petugas kelihatan terkejut setelah mendengar ceritaku dan langsung menghubungi petugas lain untuk menahan angkot yang kebetulan cuma satu-satunya diparkiran itu. Setelah beberapa teguk teh manis melewati kerongkongan kami segera beranjak ke kantor informasi sesuai apa yang diperintahkan petugas itu. Si ibu masih dengan rasa iba terus mengucapkan kata-kata yang sama "kasian banget si neng, ibu juga orang Bandung kaya neng" dan menolak menerima uang ketika aku mau bayar teh manis. Mungkin si ibu takut kami benar-benar kehabisan uang (hiks. .hiks. . :'( jadi terharu). Tapi akhirnya aku bayar juga, kasihan si ibu lebih membutuhkan.
Kamipun melanjutkan langkah menuju kantor informasi, menuruni tanah yang dibentuk anak tangga itu. Baru saja beberapa langkah kaki bergerak, aku melihat si kondektur yang diceritakan tadi berada disalah satu kios pedagang yang lain. Dan ketika jarak kami mendekat dia bangkit dari duduknya kemudian mengikuti kami. OMG, ternyata dia membuntuti kami dari tadi. Mungkin dia khawatir kami buka mulut kepada petugas dan masalah jadi panjang. Tapi terlambat Jack, aku udah lapor barusan. Mungkin dia pun sedikitnya dengar percakapan antara aku dan petugas itu karena jaraknya gak jauh dari tempat dia duduk. Aku dan temanku mempercepat langkah kaki sambil saling sikut karena menyadari si kondektur terus mengikuti dan berusaha menyetarakan langkahnya supaya bisa sejajar dengan kami. Dia sempat menawarkan jasa lagi untuk membantu kami mengambil foto juga menawarkan kami barangkali saja mau beli cindera mata dari sana tapi tak kami gubris sorry Jack kami udah ditunggu dikantor informasi. Jalan menuju kantor informasi memang satu arah dengan jalan menuju parkiran dan aku semakin bimbang saja khawatir si kondektur mengetahui misi kami. Akhirnya untuk mengelabui si kondektur kami pura-pura menuju toilet tanpa ngomong sepatah katapun kepadanya. So, dia berlalu pergi menuju parkiran.
Di kantor informasi kami disambut bapak petugas berseragam dinas dengan walky talky ditangannya juga seorang ibu petugas yang cantik jelita. Kami segera diburu dengan pertanyaan dari bapak dan ibu petugas itu akupun menjelaskan kronologisnya secara gamblang. Setelah menjelaskan ciri-ciri si kondektur beserta sopirnya maka dipanggillah dua orang tersebut disuruh menghadap kantor informasi. Disana, mereka berdua khususnya si kondektur habis di marahi bapak petugas. Dan ternyata si kondektur itu sudah dikenal petugas disana jadi intinya dia sering nipu penumpang. Ini isi percakapannya:
"heh Dudung (nama disamarkan) kenapa ini bisa terjadi lagi? Saya sudah pernah memperingatkan kamu ya". dengan sorot mata tajam si bapak petugas menyerangnya.
"jadi gini pak, maksud saya ongkos Rp. 500.000 itu sudah termasuk ke kebun strawberry, ke kebun teh dll". Si kondektur membela diri.
"tapi segitu kemahalan Dung, mereka itu orang-orang kita loh, masih penduduk Bandung sudah seharusnya dilindungi". Jelas si bapak petugas.
"Bayangkan kalau adik perempuan kalian maen jauh terus dikitukeun ku batur. Rek ngeunah moal?" Si ibu petugas menimpali.
Mereka berdua cuma manggut-manggut aja cari aman.
"Yaudah mbak daripada saya dikomplain kaya gini, saya kembalikan deh uang mbak Rp. 50.000" si kondektur menatapku.
"Gak usah saya udah ikhlasin kok uang itu, cuma kita berdua gak mau ikut angkot kalian lagi" tutur ku sambil memalingkan wajah.
"Disini gak usah takut teh, kalau seumpanya mereka nanti dijalan macem-macem atau berbuat kasar, hubungi saja saya atau lapor ke polsek, nanti setibanya di Lembang" kata si ibu petugas.
"Jadi sekarang Rp. 250.000 itu sudah termasuk pulang pergi sampai ke Lembang lagi" si sopir yang tadi diam, angkat bicara.
"Sekarang teteh maunya kaya gimana, ikut si aa itu lagi atau pilih angkot lain? Tapi nanti harus bayar lagi kalo ikut yang lain"
Akhirnya aku putuskan untuk ikut mereka lagi setelah mencatat no petugas disana. Kalaupun mereka nanti macam-macam aku bisa telepon petugas ini. Bapak petugas bersama jajarannya mengantar kami sampai parkiran. Para pedagang dan pengunjung yang melihat kami ramai berisik-bisik penasaran dengan apa yang terjadi. Si bapak petugas dengan gagah nya melepaskan kepergian kita dan mewanti-wanti sopir untuk tidak menyakiti kita diperjalanan (ahh, so sweet banget..). Sepanjang jalan pulang si kondektur gak ngomong sepatah katapun, mukanya merah menyala dan rambutnya kusut. Aku sempat bertukar pandang lewat kaca spion. Ngeri lihatnya. Disamping itu si sopir yang tadinya pendiam jadi bawel dan ramah banget sama kita terus minta maaf dengan muka penuh penyesalan. Dia bilang dia juga gak tahu menahu tentang ongkos sejumlah itu, itu semua permainan si kondektur yang ternyata calo. Juga orang-orang yang pura-pura sebagai penumpang dan berbaju hitam itu adalah komplotannya. Si sopir cerita setelah kondektur dan komplotannya turun dari angkot. Ugh untung lapor tadi. Kata ku dalam hati.
"Eh kak disini masih banyak tempat wisata yang indah-indah lho"
"Oya?" Jawabku singkat, habisnya masih bete sih.
"Iya kak. Lain kali kalo mau pergi lagi biar enak dan irit ongkos rombongan aja kak, rental mobil" saran sopir angkot.
"Tapi enakan pake motor sih..." balasku.
"Hmm iya tuh kak pake motor mah lebih aman, lebih bebas dan tentunya lebih irit ongkos" cerocosnya.
"Nah, apalagi kalo kesini nya bareng pacar kak. Wahhhh... makin romantis deh!"
Jleb. Kata-kata sopir itu sederhana namun cukup menusuk jantung tapi aku memilih nyengir aja ketimbang teriak "eh tau gak sih lo, gw tuh JOMBLOOOO....!!!" Hahaha.
Ternyata secara gak sadar aku nyengirnya kelamaan sampai kaget dengan kalimat si sopir berikutnya.
"Kak sebagai permintaan maaf dari saya, gimana kalau saya antar kakak ke De' Ranch?
Setelah dipikir-pikir gak ada salahnya juga sih terima permintaan maaf dia. Lagian jarak tempat tinggalku ke Lembang lumayan jauh walaupun masih satu kesatuan Bandung. Jadi perlu waktu banyak lagi untuk kesini dengan keadaan aku yang super sibuk banget. heheh.
"Oh boleh deh" sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Seperti itu maksudku. Kemudian sampailah di De' Ranch tempat wisata yang identik dengan tunggangan kuda ala-ala cowboy. Temanku yang tadinya cemberut jadi sumringah kembali. Kami memutuskan masuk dan beli tiket.
"Berapa orang kak?"
"2 orang mbak" Jawabku.
"Oh tapi kita tutup jam 5:00 kak" Jelasnya.
Sesaat aku melirik arloji di pergelangan tangan dan jarumnya menunjukkan jam 4:55.
Yaaahhh telat deh!