Bahagia menurutku adalah ketika kita mencintai seseorang yang juga mencintai kita dan sakit itu adalah ketika kita sepenuh hati mencintai seseorang tapi dia tak merasakan hal yang sama. Pun sama halnya ketika seseorang mencintai kita tapi hati tak menginginkannya.
Cinta adalah suatu hal yang tidak bisa dipaksakan oleh karena itu aku tak akan memaksa mu untuk mencintaiku karena itu pasti sulit, sesulit aku yang berusaha mencintainya.
Jika mau aku bisa melangkah bersamanya dan meninggalkanmu diujung kenangan tapi bayangmu mengikat kakiku hingga lumpuh.
Coretan
Coretan
Bahagia menurutku adalah ketika kita mencintai seseorang yang juga mencintai kita dan sakit itu adalah ketika kita sepenuh hati mencintai seseorang tapi dia tak merasakan hal yang sama. Pun sama halnya ketika seseorang mencintai kita tapi hati tak menginginkannya.
Cinta adalah suatu hal yang tidak bisa dipaksakan oleh karena itu aku tak akan memaksa mu untuk mencintaiku karena itu sulit, sesulit aku yang berusaha mencintainya.
Bukan masalah seberapa lama perkenalan atau seberapa jauh kedekatan tapi hati yang memilih sendiri kepingan pelengkapnya. Jika bisa mengarahkan hati aku pasti sudah menerima dia. Dia yang sudah bertahun-tahun kukenal dan sering bertatap muka.
Tak ada niat tuk menyakiti, hanya saja cara yang terlihat mungkin beda. Tetapi justeru itu lebih baik daripada sekadar memberi harapan kosong.
Diam
Diam adalah caraku menyimpan rindu mengumpulkannya di sudut-sudut penantian hingga menumpuk.
Kemudian dari puncaknya akan ku ketuk pintu langit dan menulis namamu di muka awan.
Jika suatu malam awan menangis, ketahuilah air mata itu adalah milikku yang tumpah dan membanjirinya. Dan ketika pagi datang lihatlah butir demi butirnya yang mengembun di pucuk daun ia akan berkilauan tatkala disinari mentari.
Diam juga caraku menyelami kediamanmu sendiri. Mencari tahu apakah ada aku dikedalaman dasar hati mu atau justeru selain aku yang jadi penghuninya.
Terkadang aku tenggelam oleh pertanyaan itu kemudian terapung oleh jawaban-jawaban bisu. Namun diantara ombang-ambing keyakinan semu ini, ada satu yang pasti. Aku mencintaimu!
Semoga Burung Dara Menyampaikan Ini Kepadamu
Ini bukan puisi, bukan prosa atau sejenis roman. Ini hanya isi hatiku, hati yang dibelenggu oleh cinta buta. Karena jika ia bisa melihat pasti rasa ini sudah lebih dulu lenyap. Oleh jarak, oleh isyarat, oleh waktu dan seribu satu alasan lainnya. Cinta. Aku nyaris tak mengerti akan kehadirannya. Jika dapat memilih bisakah jatuh kepadanya yang sama-sama menjatuhkan miliknya kepadaku bukan padamu. Karena cinta milikmu masih kau genggam erat untuknya dan akan tetap begitu. Tetapi apa dayaku semua nya sudah terjadi. Apa kah perlu gravitasi disalahkan? Tidak. Cukup aku saja. Meskipun sebenarnya ini sungguh diluar kendali. Iya, itulah kesalahanku. Tak bisa mengatur kendali.
Hey bagaimana kalau seandainya diri ini nahkoda mungkin sudah tenggelam karena tak bisa mengarahkan kapal saat badai menghantam terlebih lagi aku tak bisa berenang. Memohon kepada paus untuk menolong? Tidak mungkin.
Mari bicara dari hati ke hati dalam diam, dengan jarak juga kejujuran. Jika karena jujur bisa membuat hancur maka aku lebih memilih hancur daripada mati perlahan dalam ketidak pastian.
Bukankah selama ini sudah cukup bukti? Dari rasa yang diabaikan sampai janji-janji palsu. Lalu kejujuran apalagi yang diinginkan?
Aku ingin mendengar kejujuran itu dari lisanmu. Katakan saja jika tak menginginkanku. Isyarat terlalu lemah jika di banding cinta yang ku punya.
Antara aku, angkot dan Tangkuban Parahu
Merindukanmu
Entah ini malam kesekian, tak ada bilangan pasti tuk menghitungnya. Namun rumput yang tadinya hijau telah kering dan menguning sekarang. Mungkin itu cukup sebagai saksi berapa lama aku berdiri disini menanti angin membisikkan kabar tentangmu.
Menjadi seperti ini seolah candu, membiarkan bayangmu menguasai hening yang semakin bising. Terasa amat perih tapi kunikmati. Sungguh tak ada pilihan untuk menghindar bahkan ketika ku terlelap kau menemuiku dalam buaian.
Aku merindukanmu. . .
Dear You
Aku tak tau apakah kau benar-benar menginginkanku atau tidak
Dan aku tak tau kemana takdir akan membawa kita
Yang aku tahu hanyalah, aku mencintaimu!
Jangan tanyakan alasan, sebab akupun tak mengerti
Mencintaimu sungguh diluar kendaliku
Entah apa dan mengapa
Entah bagaimana dan darimana
Bahkan seluruh lagu cinta dan soneta Shakespeare didunia tak dapat menggambarkannya.
-Bandung, 08 Sept 2015
Ungkapan Penyesalan
Banyak hal telah mematahkan harapan yang terpupuk ribuan hari lamanya. Segenggam harapan dari seorang gadis kecil yang tidak tahu menahu tentang alur dunia nyata. Hanya imajinasi dan obsesi terukir indah di mungilnya ruang yang ia miliki. Suci tanpa kebencian.
Tetapi kini imajinasi dan obsesi itu menjadi sumber kepedihan, ia berontak dalam ketidakberdayaan. Menggertak hari demi hari tak berkesudahan. Menggugat keadilan dari takdir yang Tuhan gariskan.
Tak terhitung berapa banyak keinginan untuk beranjak dari cengkraman dahsyat yang mengikat erat jiwa. Terasa lelah dengan deraian air bening yang tak kunjung reda.
Ingin berlari terus dan terus sampai hilang rasa sakit ini. Tak ingin menoleh kebelakang, tuk kemudian menginjak duri-duri itu lagi.
Maaf wahai masa kecilku, aku tak mampu menjadi apa yang kau impikan, tak berdaya memperjuangkan senyuman, dari jutaan angan disaat kau membuka mata. Aku gagal membawa pelangi yang dulu selalu kau lukis dikanvas setiap pagi.
Karena inilah dunia nyata tak selalu berakhir indah seperti kisah-kisah dongeng yang kau baca dikala senja.
H-I-M are not just 3 letter word
Untukmu, nama yang pernah memenuhi setiap halaman diary ku, nama yang sengaja kutulis berserakan di modul biologiku. Orang yang pernah membuat hatiku jumpalitan, jantungku berdebar lebih kencang.
Pagi itu senin17 Agustus 2009 awal kita bertemu dan menjadi kisah yang tak akan habis ditelan waktu. Aku masih mengingat wajahnya, suaranya, cara dia menatapku dan wangi parfumnya. Lelaki itu terindah dari semua yang pernah aku kenal. Aku bisa merasakan ketenangan dan rasa nyaman saat bersamanya, merasa terlindungi saat duduk dibelakang sebagai boncengannya.
Awalnya aku hanya mengaguminya, kagum atas sosok dan kepribadian itu yang cerdas dan berwawasan luas, rapi dan bukan perokok. Tetapi semakin lama seiring bergantinya hari kurasa aku juga mulai menyukainya, suka semua yang ada pada dirinya, senyumnya, gaya bicaranya, nasehat-nasehat juga topik bicaranya yang kadang sulit kumengerti.
Berdua dengannya dan menatap wajahnya adalah kombinasi 2 hal paling menyenangkan waktu itu.
"Kak, jika secara tak sengaja kamu membaca tulisan ini ketahuilah dulu kata suka yang Ana maksud itu sebenarnya adalah cinta, iya dulu aku cinta kamu kak. Aku minta jangan menertawakan aku lagi karena sekarang aku sudah sangat dewasa untuk memahami apa itu cinta. Aku hanya menyampaikan kata yang dulu tak sempat Ana uraikan. Ana sangat mengagumi kakak, yaaah walaupun kakak selalu menganggap Ana anak kecil."
Oh iya aku selalu ingat ketika hari itu aku menemuimu, aku cemas setengah mati karena tak tahu jalan tapi kau menenangkanku dan bilang pasti baik-baik saja dan ketika aku menoleh ke luar jendela bis yang kutumpangi, ternyata kau dibelakang mengikutiku dengan sepeda motormu.
Kak, dimanapun kau berada sekarang dan dengan siapapun pendampingmu aku doakan bahagia selalu. Kamu lelaki baik dan pantas mendapat yang terbaik. Terima kasih atas semua kenangan manis itu.
- Anna -
Aku Dan Serpihan Lukaku
Diakui atau tidak, ini tetap perasaan dan perasaan ini adalah sumber dari semua rasa sakit yang kuderita. Aku berusaha biasa saja tapi tak bisa.
Kilasan-kilasan peristiwa yang telah berlalu itu selalu terekam berulang-ulang dibenakku membuat ku semakin terpuruk dan merasa tak diinginkan.
Sebuah luka memang tak selalu terlihat oleh mata meskipun sebenarnya sakitnya sungguh mematikan. Tak pernah ada yang tahu bagaimana rasanya sebuah kesakitan yang aku rasa dan aku menjamin tak akan ada yang mengerti sebab mereka cuma mendengar sedangkan aku yang mengalami. "Sabar, bersyukur, dan selalu berfikiran positif, jangan terlalu mendramatisir dan terlalu mendalami hal yang cukup sepele." Kalimat itu mungkin sangat ringan terlontar dari mulut siapapun tetapi bukankah teori lebih mudah dibandingkan dengan praktek langsung?
Aku tersenyum getir diantara hujaman-hujaman tajam belati berusaha berdamai dengan perih yang menggelayut tiada henti.
Aku tertawa seperti orang gila berharap air mata mengering namun tak kunjung jua. Ingin cerita tapi pada siapa aku tak percaya mereka, sedikitpun tidak.
Tuhan, aku berharap Engkau tak pernah bosan mendengar rintihan-rintihan doaku. Aku mohon jangan biarkan ku larut dalam isak tangis dan duka lara. Jangan tinggalkan aku, sebab tanpa pertolonganmu aku tak berdaya. Aku yakin Engkau sangat menyayangiku meskipun seisi dunia tak menginginkanku. Genggam aku seperti aku menggenggamMu di jiwaku.
Kepingan Rindu Yang Membeku
Tak usah kau bakar lagi sisa-sisa kenangan itu karena ia sudah hancur jadi abu. Kelabu. Terbang menjadi debu.
Pergi saja ke tengah lautan biru dan akan kau dapati kepingan-kepingan rindu yang membeku. Tak pernah bisa mencair walau musim berlalu. Ya, rindu itu milikmu.
Seberapa merdukah lantunan-lantunan nada yang sempat kau nyanyikan dahulu kepadaku hingga sayup-sayup indah syairnya masih menghuni ruang ingatanku.
Ingatkah akan janji yang sempat kau patri didinding gelap sang malam. Ketika purnama tak bulat sempurna, kau pernah berjanji bukan? Bahwa kau tak akan pernah bersembunyi dibalik temaram, sebab adakalanya cahaya sepasang kunang-kunang akan padam, tenggelam, hilang ditelan malam.
Aku tak menemukanmu senja ini bahkan ketika gelap belum merayap menumpahkan warna hitam dikaki langit.
Sayang. .
Bathinku coba menerka, kau pasti menepati janji aku tahu kau tak bersembunyi itu sebabnya mengapa aku terus menanti. Aku menanti hingga bola api membakar harapan dibalik muka pucat pasi.
Tidak, kau memang tak bersembunyi tetapi memilih pergi dan membiarkan ku berdiri sendiri.
Nek, bolehkah aku bicara sebentar. .
Lewat tulisan ini aku curahkan semua yang ingin kukatakan karena hanya cara ini yang aku bisa sebab sekarang tak lagi seperti dulu, nenek sudah tak bisa kutatap dan tak bisa mendengar apa yang kuucapkan lagi. Nek, mungkin ini berita yang sangat mengejutkan bagimu dan kau pasti berharap tak pernah mendengarnya namun aku tak bisa menyimpannya sendiri karena dari dulu tugasku adalah menjadi informan buat nenek. Aku tak tau harus darimana memulainya untuk mengatakan ini pada nenek agar tak melukaimu. Malam ini aku dirundung pilu nek, dia cucu bungsumu, adik bungsuku yang dulu kau ajarkan sholat kau paksa untuk pergi mengaji dia terkena musibah nek. Saat ini dia berada dalam suatu kasus yang mungkin bisa mengantarkannya ke jeruji besi karena kesalahan dia yang aku yakin dia pasti tak sengaja melakukannya. Katanya dia sudah 2 minggu di penyidik menunggu vonis dan dana tebusan. Maafkan aku telah lalai untuk mengawasi dan mengingatkannya, aku tak lagi bisa menjaganya seperti saat kami masih anak-anak. Aku tak setangguh dulu ketika membelanya dari semua anak-anak jahat disekolah yang ingin mengganggunya, aku dulu selalu berjuang habis-habisan untuknya tak peduli perempuan atau laki-laki dan seberapa kuat anak-anak nakal itu. Perih sekali hatiku membayangkan apa yang mungkin orang-orang berseragam dinas itu lakukan terhadapnya, ingin sekali menemuinya meringankan deritanya dan melindungi tubuh ringkihnya tapi aku tak mampu aku hanya bisa mendoakannya supaya dia diberi kekuatan dan ketabahan atas ujian ini. O iya nek, suatu hari dia pernah datang menemuiku bicara panjang lebar dan mengeluhkan hidupnya, dia bilang beban hidupnya semakin berat aku bisa melihat roman kepedihan di wajahnya walaupun dia berusaha menutupi. Dia juga bilang satu hal nek bahwa dia merindukan nenek, dia menyesal dulu bandel dan sering mengabaikan nasihat nenek. Nek, nenek jangan sedih, jangan nangis semua pasti baik-baik aja dede pasti bebas aku yakin nek. Besok bapakku dan bapaknya mau menjenguknya.
-Teteh, cucu sulungmu (Informan nenek)
The Marriage
Pernikahan seolah menjadi klimaks dalam kehidupan setiap orang khususnya perempuan meskipun pada kenyataan sering berakhir menjadi antiklimaks. Seorang perempuan yang masih lajang diusia 20 keatas sering menjadi topik hangat perbincangan dengan pertanyaan serupa "kapan menikah?","kenapa belum menikah?". Padahal pernikahan adalah suatu peristiwa sakral dimana 2 orang saling mengikat janji, bukan cuma janji kepada pasangannya tetapi juga janji kepada Tuhan untuk saling menjaga sampai maut memisahkan. Oleh karena itu butuh pemikiran yang benar-benar matang serta pasangan yang benar-benar siap untuk berjalan bersama menuju mahligai itu.
Disisi lain kadang saya merasa iri dengan laki-laki yang bisa menjalani masa-masa lajangnya lebih lama dibanding perempuan. Jujur, ruang yang saya punya terlalu sempit untuk ukuran pemimpi yang obsesif seperti saya. Banyak hal dalam hidup ini yang belum sempat saya raih tetapi jika mengingat usia, saya merasa sudah bukan masanya lagi mengejar mimpi dan cita-cita. Apalagi orangtua sudah mulai minta dibawakan calon mantu, maklum saya anak pertama jadi mereka tak sabar ingin menikahkan dan menjadi wali.
Namun, sampai detik ini saya belum merasa siap untuk menikah meskipun hampir semua teman-teman sudah pada gendong anak. Ingin sekali mengubah pola pikir yang rumit dan berbelit ini, untuk cepat-cepat menikah dan hidup BAHAGIA bersama sang suami. Nah, kata BAHAGIA itu juga yang kadang menjadi salah satu kekhawatiran saya sebab mereka bilang dalam berumah tangga ternyata tidak seindah yang kita pikirkan ketika masih gadis.
Seperti biasa kalau ada anak gadis orang yang menikah mama pasti telpon dan tadi mama nelpon lagi "Teh anaknya pak ×××× nikah hari ini, terus teteh kapan?" Aku senyum aja nanggapinnya. "Teteh belum ada calonnya ma!"
Harapan Baru
Esok
Saat pagi datang menjelang,
Ketika fajar menggeliat dari peraduannya,
Saat burung berdendang bersahutan
Dan butiran embun menetes dari dedaunan
Saat itu harapan baru ku bangun tepat diatas hamparan takdir yang Tuhan gelar.
Semua akhir pasti memiliki awal sebagai pembukanya
Setiap awal pasti akan menemukan akhir dipenghujung kisahnya.
Awal yang buruk tak selalu berakhir buruk. Tetapi sesuatu yang diawali kebaikan akan selalu menjanjikan kebahagiaan.
Ingat akhir bahagia itu ada hanya saja waktu dan kesempatannya yang berbeda.
Kesakitanku
Salahkah aku manaruh harap terhadapmu?
Kurang tepatkah aku memberi rasa kepadamu?
Dan bodohkah aku yang selalu menginginkanmu?
Sedangkan. .
Kau terus mengecewakanku tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun
Menyakitiku dan tak peduli apa yang kurasakan.
Kadang seperti sengaja ingin membiarkan ku pergi.
Tahukah kamu?
Berapa banyak luka yang pernah aku derita.
Setengah mati aku bertahan dengan seribu cerita kelam, pura-pura tersenyum padahal perih menari-nari dijiwa.
Saat kau menemukanku dengan ketidakberdayaanku kau bertindak seperti pembawa obat seperti ingin menyembuhkan luka-luka ku, melenyapkan segala sakitku hingga aku merasa ketergantungan dan tak bisa bila tanpa hadirmu.
Sekarang kau seolah sengaja ingin membunuhku, membiarkan luka itu berdarah kembali dan menambahnya dengan sayatan sayatan baru.
Ini rahasia
Malam
Bersediakah kau mendengar sebait ungkapan perasaanku
Aku janji tak kan lama, sejenak saja
Ini rahasia
Kita akan mengakhirinya sebelum fajar terbit dan terang menggantikan gelapmu.
Wahai malam
Dalam keheningan yang kau ciptakan Beserta semilir angin yang kau tiupkan diantara gemerisiknya daun-daun, aku ingin kau jadi saksi bahwa ada rindu disela debaran jantung ini.
Malam tolong aku
Tolong perintahkan anginmu untuk membisikkan rindu ini kepadanya
Katakan juga bahwa aku menginginkan kehadirannya, duduk bersamaku menatap kelamnya langit tanpa bintang
Tahukah kamu oh malam
Walaupun rembulan enggan menyapamu saat ini tapi aku masih tetap bisa melihat cahaya disini, yang bergerak melukis wajahnya.
Ah rupanya aku harus mengakhiri rahasia ini seperti janjiku kepadamu malam karena ternyata waktu sudah mengambil sepertiga dari tugasmu.
Dengar malam!
Aku merindukannya, sangat merindukannya dan ini rahasia kita.
Torn Apart
Pagi ini aku terbangun. Ada perih dihati ini, sakitnya menjalar keseluruh tubuh. Terasa semuanya sangat berbeda dari kemarin, tak ada lagi secercah harapan yang mungkin bisa kuukir. Aku termangu, mengumpulkan sisa-sisa semangat yang masih kupunya setelah sebagian berhamburan hilang entah kemana.
Aku merindukanmu dan sungguh aku benci perasaan ini. Kenapa betapa lemahnya diri ini menangisi orang yang samasekali tak ingin memperjuangkanmu.
Yakinlah ini akan berakhir akan hilang hanyut bersama air yang mengalir disungai mungil kedua mataku. Meski ku tak tau kapan itu terjadi.
Hurt
Pagi sudah berganti tapi sakit ini tetap tak mau pergi. Kebodohan yang sama terulang lagi memberikan hati pada seseorang yang tak benar-benar menginginkannya. Ingin pergi membelakangi mu tapi semua arah bagaikan jalan buntu. Aku terjebak, tak bisa bergerak.
Aku bersaksi bahwa cintaku pasti, bukan ingin dikasihani aku hanya ingin kau mengerti walaupun aku tau kau tak akan pernah peduli.
Disini aku menangis tersedu bergulat melawan rindu yang tak perlu. Oh sungguh aku benci rasa ini, ingin menguburnya dalam-dalam tapi ku tak mampu.
A Stupid Testimonial
Sebelumnya tak ada sedikitpun perasaan tertarik untuk memulainya denganmu bahkan aku tak pernah berfikir sekilas pun tentangmu. Tak ada kamu dihati aku. Kamu samsekali asing dan aku memandangmu sama seperti caraku memandang yang lain. There's nothing in my heart but a blank space, just an empty sheet.
Dan suatu ketika kamu datang meyakinkanku dengan lisan dan tulisan yang menyirat dan menyuratkan bahwa kesungguhanmu benar-benar suatu hal yang akan sangat disayangkan jika kuabaikan. Namun aku masih tak ada keinginan untuk menanggapinya.
Walaupun seperti itu keadaanku kamu tetap hadir terus menerus membawa berjuta kata penuh harap, membuatku tergerak untuk membalas walaupun waktu itu aku hanya main-main, sekedar untuk mengisi kekosongan.
Hari demi hari berlalu sampai aku menemukan diriku terjerat dalam kepura-puraan yang ku ciptakan. Ada perasaan lain yang tak kurasakan sebelumnya terhadapmu, ada hangat dijiwa ini ketika mendengar sapamu. Aku sempat bertanya pada hati kecilku, apakah aku mulai bisa menerima kembali makhluk yang bernama lelaki? "Tidak!" Satu sisi keegoanku menepisnya. Kalaupun terjadi itu pasti bukan kamu yang kubiarkan masuk dan mengisi rumpang hatiku mengingat perkenalan kita yang terasa sangat bodoh. Tetapi keangkuhanku perlahan roboh, aku berjalan mengikuti alur yang telah diarahkan hati ini.
God, I truly love him! And You are the first who knows what I feel.
Finally I fall into his arms. Aku tak mampu menyangkal bahwa aku menyayanginya tanpa alasan. Aku tahu dia menyebalkan, sering tak menepati janji dan omongannya nonsense, ya itu yang ku temukan darinya setelah dia mengetahui aku menyimpan perasaan terhadapnya. Apakah harapan yang dulu dia bawa hanyalah sekedar bualan belaka. Ya misi dari permainan busuknya. Permainan yang menguji seberapa hebatnya dia membodohi aku.
Dan apakah aku hanya korban dari perasaan sesaatnya, ketika kesepian digenggamannya.
Aah entahlah!
Aku merasa aku bukan satu-satunya. I feel I just your willing victim. Banyak yang tidak aku ketahui tentangmu dan kau pun selalu bungkam.
Tak jarang kau mengecewanku lewat omongan maupun tindakanmu tapi anehnya semua itu tidak membuatku membencimu. Beberapa kali aku ingin pergi dan mengakhiri tapi aku tak mampu. Sampai disuatu titik yang tak bisa ku tahan lagi. Aku memilih menyudahi kisah singkat ini sebelum aku benar-benar menemukan apa yang selama ini hatiku pertanyakan.
Maaf jika aku salah menilaimu, kamu sendiri yang menyebabkan ku seperti ini. Kau tak pernah benar-benar menginginkanku setulus aku mengnginkanmu buktinya kau bahkan tak berusaha menahanku saat aku melangkah pergi. Bukankah ini semua sudah cukup membuktikan kalau aku hanyalah wanita malang yang lengah yang terjebak permainanmu.





